Breaking News

Berita & Artikel

Amalan yang Harus Dilakukan dan Dihindari Menjelang Ramadhan

Lampung Timur, 21 Juni 2026 – Suasana penuh khidmat dan kekeluargaan menyelimuti kegiatan Haul Almarhumin Pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Lampung Timur pada Ahad malam (21/06/2026). Dalam rangkaian acara tersebut, para jamaah mendapatkan siraman rohani melalui Mauidhotul Hasanah yang disampaikan oleh Gus Bahru Zamzami, Pengasuh Majelis Aldabar, Nganjuk, Jawa Timur.

Di hadapan ribuan jamaah yang memadati lokasi acara, Gus Bahru menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang pentingnya pendidikan anak, keutamaan ilmu, serta akhlak sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat.

Mengawali ceramahnya, Gus Bahru menjelaskan bahwa hubungan antara harta dan anak memiliki keterkaitan yang sangat erat. Menurut beliau, harta yang dimiliki orang tua pada hakikatnya digunakan untuk menjaga dan membesarkan anak, sementara ketika orang tua memasuki usia lanjut, anaklah yang akan menjaga dan merawat orang tuanya.

“Harta menjaga anak, dan anak menjaga harta. Maka jangan hanya mewariskan harta kepada anak, tetapi wariskan juga ilmu dan akhlak yang baik,” tutur beliau.

Beliau kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW tentang tiga amalan yang tidak terputus setelah seseorang meninggal dunia, salah satunya adalah “waladun shalihun yad’u lahu”, yakni anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.

Menurut Gus Bahru, keberadaan anak yang saleh tidak hanya menjadi penyejuk hati, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dan rezeki bagi orang tua. Anak yang baik akan menjaga nama baik keluarga, membahagiakan orang tua, serta menjadi investasi akhirat yang nilainya jauh lebih besar daripada harta benda.

“Anak memengaruhi rezeki orang tua. Anak yang baik akan menjaga orang tua. Ketika orang tua berhasil mendidik anak dengan baik, maka hasilnya akan kembali kepada orang tua sendiri, baik di dunia maupun di akhirat,” jelasnya.

Dalam ceramahnya, Gus Bahru juga mengajak jamaah untuk semakin menghargai ilmu pengetahuan. Beliau mengutip firman Allah SWT yang menegaskan bahwa tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

“Apakah sama orang yang berilmu dan yang tidak berilmu? Tentu tidak sama. Melakune ora podo, sholate ora podo, turune ora podo, mangane ora podo, ngombene ora podo. Orang yang berilmu memiliki cara hidup yang berbeda karena ilmunya membimbing setiap langkah kehidupannya,” ungkap beliau yang disambut antusias jamaah.

Gus Bahru menjelaskan bahwa ilmu merupakan faktor yang mengangkat derajat manusia. Beliau memberikan ilustrasi sederhana mengenai perbedaan profesi yang sama-sama menggunakan istilah “tukang batu”. Ada tukang batu bangunan yang bekerja secara fisik, namun ada pula dokter spesialis yang menangani penyakit batu ginjal. Perbedaan keduanya terletak pada ilmu yang dimiliki.

“Karena ilmu, derajat seseorang diangkat oleh Allah SWT. Maka jangan pernah ragu menginvestasikan waktu dan biaya untuk pendidikan anak-anak kita,” pesannya.

Secara khusus, beliau menegaskan bahwa ketika anak diberikan ilmu agama dan ilmu yang bermanfaat, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang mulia dan membanggakan keluarga.

Pada kesempatan itu, Gus Bahru juga menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya akhlak dalam kehidupan. Menurut beliau, kecantikan fisik semata tidak cukup untuk membangun kehidupan yang bahagia.

“Kecantikan wajah hanya akan membuat laki-laki menatap, tetapi kecantikan hati akan membuat laki-laki menetap,” ujar beliau yang langsung disambut tepuk tangan jamaah.

Beliau mengingatkan bahwa akhlak tidak dapat dibentuk secara instan ataupun dipaksakan. Akhlak yang baik lahir dari pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan sejak usia dini. Bahkan dengan gaya humor yang mengundang senyum jamaah, beliau menyampaikan ungkapan, “Tidak kusangka wajah secantik senja membuat sakit hati seluas samudra,” sebagai pengingat bahwa kecantikan tanpa akhlak tidak akan membawa kebahagiaan.

Karena itu, Gus Bahru menekankan bahwa ilmu dan akhlak merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Ilmu tanpa akhlak dapat menjerumuskan seseorang, sementara akhlak tanpa ilmu akan membuat seseorang kesulitan menghadapi perkembangan zaman.

Dalam ceramahnya, beliau juga mengingatkan pentingnya tradisi mengaji sejak usia dini melalui syair Jawa yang akrab di kalangan pesantren:

“Lelo lelo lelung, anak lanang nandur jagung. Cilik-cilik ngaji, besok gede dadi wong agung.”

Menurut beliau, kebiasaan mengaji sejak kecil akan menjadi fondasi lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kedudukan mulia di tengah masyarakat.

Menjelang akhir ceramah, Gus Bahru menyampaikan tentang tujuh golongan yang doanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Pertama, orang yang terzalimi (al-madzlum). Kedua, doa orang tua untuk anaknya (al-walid li waladihi), khususnya doa seorang ibu yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Allah SWT.

“Doa ibu untuk anak itu seperti doa nabi untuk umatnya. Maka jangan pernah menyakiti hati ibu,” pesan beliau.

Ketiga, orang yang berpuasa, terutama pada momentum-momentum istimewa seperti bulan Muharram dan hari Asyura. Keempat, orang yang sakit namun tetap sabar dalam menghadapi ujian. Kelima, orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan (bil ghaib). Keenam, doa para nabi untuk umatnya. Dan ketujuh, doa orang yang sedang menunaikan ibadah haji.

Mauidhotul Hasanah yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut berjalan dengan penuh kekhidmatan. Jamaah tampak menyimak setiap pesan yang disampaikan dengan seksama. Banyak di antara mereka yang mencatat poin-poin penting sebagai bekal dalam mendidik keluarga dan memperbaiki diri.

Kehadiran Gus Bahru Zamzami dalam Haul Almarhumin Pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian acara seremonial, tetapi juga menjadi momentum penguatan nilai-nilai pendidikan pesantren yang menempatkan ilmu, akhlak, dan keluarga sebagai pilar utama dalam membangun generasi penerus umat.

Picture of Admindarululum

Admindarululum

Facebook
WhatsApp
Email

Tinggalkan Balasan