Sejarah akan mencatat, pada pagi yang redup di tanggal 14 Agustus 2025, halaman MA Ma’arif NU 5 menjadi saksi sebuah upacara sederhana namun sarat makna. Bukan sekadar barisan rapi berseragam cokelat, melainkan sebuah pernyataan diam-diam dari sebuah lembaga pendidikan Islam, bahwa ketahanan bangsa dibangun dari keteguhan hati, meski hujan mencoba mengikis semangat.
Sekitar Pukul 07.30 WIB, ketika langit masih menggantungkan awan kelabu, bunyi sirine atau bell memecah hening. Rintik hujan, yang sejak subuh menetes pelan, tak membuat langkah para siswa, guru, dan staf mundur. Mereka berdiri tegak, seragam pramuka lengkap melekat di tubuh, peci dan topi rapi di kepala, serta wajah-wajah yang mungkin sedikit basah, entah karena gerimis atau karena rasa khidmat yang memuncak.
Di tengah lapangan, berdiri Bapak Fitriyanto, S.Ag, pembina upacara pagi itu. Dengan suara yang mantap namun mengalun tenang, beliau menyampaikan amanat: bahwa setiap siswa dan guru punya peran, sekecil apa pun, dalam membangun dan meningkatkan ketahanan bangsa. Tak ada kata-kata yang berlebihan, tak ada retorika kosong. Hanya pesan sederhana yang, seperti hujan, meresap perlahan ke dalam hati pendengarnya.
Hening terasa begitu tebal ketika amanat itu mengalir. Hanya suara hujan yang menepuk-nepuk tanah dan kain seragam. Lalu, sebelum mengakhiri, beliau mengangkat tangan, mengucap salam khas yang menyatukan jutaan Pramuka di negeri ini: “Salam Pramuka!” Seruan itu dibalas lantang oleh peserta, membelah udara lembab pagi hari.
Doa menjadi penutup, namun bukan sekadar formalitas. Kata-kata permohonan yang dipanjatkan menyebut para pendiri bangsa, para guru yang berjasa, dan pendiri madrasah yang telah menanam benih-benih ilmu di tanah ini. Hujan, yang semakin deras, seperti turut mengamini setiap kata, membuat suasana khusyuk semakin pekat. Air yang membasahi wajah seakan menyamarkan air mata yang jatuh tanpa izin.
Hari itu, MA Ma’arif NU 5 bukan sekadar memperingati Hari Pramuka ke-64 dengan tema Membangun Ketahanan Bangsa. Mereka memberi teladan bahwa ketahanan bukan hanya tentang kekuatan fisik atau kecanggihan teknologi, tetapi tentang kesetiaan menjalankan kewajiban meski langit tidak bersahabat.
Dan mungkin kelak, ketika hujan turun di pagi peringatan Pramuka tahun-tahun mendatang, orang akan mengingat pagi itu, ketika hujan, salam, dan doa berpadu menjadi satu, menjadi simbol kecil dari ketahanan yang sejati.
Author : Zainul Mubtadiin, M.Pd
© 2024 Yayasan Darul Ulum Sekampung